Konflik dengan KTM
Hubungan Viñales dengan KTM sedang buruk. Ia menuding pabrikan Austria itu mengingkari komitmen menempatkannya di tim pabrikan, meski kontrak sudah diteken, dan menyebut mereka telah berbohong padanya.
KTM sendiri berdalih bahwa mereka sudah bersabar menunggu Viñales pulih dari cedera sepanjang musim, namun karena tak kunjung ada kemajuan berarti, mereka memutuskan merekrut Alex Márquez dan Fabio Di Giannantonio untuk tim pabrikan musim depan.
Opsi tersisa bagi Viñales adalah tim satelit Tech3, tapi bos tim itu, Günther Steiner, enggan ikut campur dan menegaskan bahwa urusan kontrak sepenuhnya antara Viñales dan KTM.
![]() |
| Maverick Vinales bersama Valentino Rossi | Foto: MotoGP |
Performa yang Menurun
Di GP Sachsenring, Viñales finis paling belakang di sprint race, lalu memilih masuk pit dan mengakhiri balapan utama lebih awal karena melaju sangat lambat. Ia membantah spekulasi soal sabotase atau boikot, menjelaskan bahwa motornya bermasalah secara mekanis, ditambah cedera bahu lamanya kambuh di lap ke-10 sehingga lengannya kehilangan kekuatan.
Meski dokter menyatakan kondisi bahunya secara klinis baik-baik saja dan memperkirakan pemulihan penuh baru terjadi Oktober, Viñales menilai itu sudah terlambat. Ia bahkan berencana menemui dokter spesialis yang biasa menangani Marc Márquez.
Masa Depan yang Suram
KTM tampaknya enggan memutus kontrak sepihak untuk menghindari sengketa hukum, sehingga muncul dugaan mereka menerapkan strategi "pengucilan" mengurangi dukungan teknis secara bertahap agar Viñales memilih mundur sendiri. Peluang Viñales di MotoGP musim depan pun nyaris tidak ada, sementara ia sendiri menolak opsi pindah ke WorldSBK.
Artikel juga mencatat bahwa meski talenta balap Viñales tak diragukan bahkan disebut bisa melampaui Marc Márquez dalam hal kecepatan murni kecepatan itu biasanya hanya muncul di sesi tes atau sebagian kecil balapan saja. Sepanjang kariernya di Suzuki, Yamaha, dan Aprilia, ia juga kerap membawa drama personal ke dalam tim, yang dinilai jadi kelemahan mentalnya di level MotoGP.
Ia sejatinya punya rekor sebagai pembalap yang menang bersama tiga pabrikan berbeda, dan sempat berharap KTM akan menjadi yang keempat harapan yang kini tampak sulit terwujud. Tantangan terbesarnya sekarang bukan lagi soal menang, melainkan apakah ia mampu bertahan hingga akhir musim.
