10 Jurusan yang Paling Banyak Nganggur Vs. Paling Sedikit Nganggur. Ada Jurusanmu?

Author

VIA Kabar – Anggapan bahwa jurusan kuliah tertentu otomatis membuka jalan menuju pekerjaan dengan gaji tinggi mulai mendapat tantangan dari kondisi pasar kerja. Bahkan, sejumlah bidang yang selama ini dianggap memiliki prospek cerah justru mencatat tingkat pengangguran yang relatif tinggi.

Perubahan tersebut tidak terlepas dari perkembangan industri dan strategi perusahaan dalam menghadapi kondisi ekonomi. Forbes melaporkan, perusahaan dapat merekrut banyak pekerja ketika pertumbuhan bisnis sedang pesat. Namun, ketika pertumbuhan melambat, perusahaan biasanya melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah karyawan. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan biaya, mempertahankan margin keuntungan, sekaligus menjaga performa perusahaan di pasar modal.



Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pekerja yang sudah berada di industri. Lulusan perguruan tinggi pun menghadapi kenyataan bahwa gelar dan jurusan yang dipilih tidak selalu berbanding lurus dengan peluang mendapatkan pekerjaan.

Gambaran mengenai kondisi tersebut terlihat dalam laporan Federal Reserve Amerika Serikat berjudul "Labor Market Outcomes of College Graduates by Major". Berdasarkan laporan itu, tingkat pengangguran lulusan berbeda cukup signifikan antara satu jurusan dengan jurusan lainnya.

Jurusan dengan tingkat pengangguran paling tinggi ditempati:

  1. Antropologi 9,4%.
  2. Fisika 7,8%
  3. Teknik Komputer 7,5%
  4. Seni Komersial & Desain Grafis 7,2%.
  5. Seni Murni 7,0%
  6. Sosiologi 6,7%.
  7. Ilmu Komputer 6,1%.
  8. Kimia 6,1%. 
  9. Sistem Informasi dan Manajemen 5,6%
  10. Kebijakan Publik dan Hukum 5,5%.

Menariknya, daftar tersebut berbanding cukup jauh dengan jurusan yang memiliki tingkat pengangguran paling rendah, seperti:

  1. Ilmu Gizi (0,4%)
  2. Jasa Konstruksi (0,7%)
  3. Ilmu Hewan dan Tanaman (1,0%)
  4. Teknik Sipil (1,0%)
  5. Pendidikan Luar Biasa (1,0%)
  6. Pertanian (1,2%)
  7. Pendidikan Anak Usia Dini (1,3%)
  8. Teknik Kedirgantaraan (1,4%)
  9. Keperawatan (1,4%)
  10. Ilmu Kebumian (1,5%)

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa memilih jurusan berdasarkan popularitas atau anggapan mengenai besarnya peluang kerja belum tentu memberikan hasil seperti yang diharapkan. Kebutuhan dunia kerja juga dapat berubah lebih cepat dibandingkan perkembangan pendidikan di perguruan tinggi.

Bahkan, tidak semua lulusan akhirnya bekerja sesuai dengan bidang studinya. Data historis CareerBuilder pada 2013 menunjukkan hampir separuh, atau 47% pekerja berpendidikan tinggi, memulai pekerjaan pertama mereka di luar bidang pendidikan yang ditempuh. Sebanyak 32% bahkan tercatat tidak pernah bekerja pada bidang yang sesuai dengan jurusannya.

Tekanan terhadap sejumlah profesi juga semakin besar seiring berkembangnya teknologi otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI). Industri teknologi menjadi salah satu sektor yang paling cepat merasakan perubahan tersebut karena sejumlah pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia mulai dapat dibantu atau dikerjakan oleh sistem AI.

CEO Microsoft Satya Nadella sebelumnya mengungkapkan bahwa sekitar 20% hingga 30% kode pemrograman di perusahaan tersebut sudah dibuat menggunakan AI. Perkembangan itu diperkirakan akan semakin pesat.

CTO Microsoft Kevin Scott bahkan memproyeksikan bahwa AI berpotensi menghasilkan hingga 95% kode pemrograman Microsoft pada 2030.

Dengan demikian, prospek suatu jurusan tidak hanya ditentukan oleh reputasi atau label "jurusan favorit". Perubahan kebutuhan industri, kondisi ekonomi, kemampuan beradaptasi, serta perkembangan teknologi menjadi faktor yang semakin menentukan perjalanan karier seseorang setelah lulus.


Source: CNBC Indonesia